kerinci sungai penuh news
menu
pilihan

Zumi-Sherin Senang Disirami

Zumi-Sherin Senang Disirami

| Jumat, 01 Februari 2013 | Dibaca: ... kali
MUARA SABAK - Bupati Tanjung Jabung Timur Zumi Zola, dan istrinya Sherrin Tharia, menjadi pusat perhatian warga yang mengikuti acara adat Mandi Shafar, Rabu (9/1). Acara itu dihelat di Pantai Babussalam, Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Tanjab Timur.
Zumi dan Sherrin turut serta mengantar menara segi empat yang dilarung ke laut. Saat menara telah berada sekitar 15 meter dari bibir pantai, keduanya ditemani beberapa orang naik ke lantai menara tujuh tingkat itu. Menara terus didorong hingga jarak sekitar 20 meter dari bibir pantai.
Sembari mendorong menara, warga lainnya menyirami yang di atas menara. Pakaian Zumi dan Shering basah kuyub dalam sekejab. Peserta mandi shafar itu tidak berhenti saat menyaksikan Zumi dan Sherrin sibuk menyeka wajahnya, justru semakin bersemangat memercikkan air laut.
Bukan hanya pasangan itu saja yang basah kuyub, tapi semua yang berada di dekat pantai berpasir hitam itu. Peserta mandi shafar yang sudah di dalam laut berusaha membasahi yang berdiri di tepi pantai. Dalam tradisi mandi shafar, tidak boleh marah bila ditarik ke laut.
Zumi dan Shering bukannya marah mendapat perlakuan demikian dari warga yang sejak pagi itu telah mencari keberadaannya. Keduanya tersenyum menyaksikan warga yang berkerumun menyirami dengan berbagai cara. Justru ajudan Zumi yang terlihat sibuk melindungi bosnya.
Lebih 15 menit Zumi dan Sherrin 'mandi' di laut yang ombaknya lumayan besar. Saat pasangan yang sudah sembilan bulan menikah itu keluar dari pantai, warga terlihat masih menyiraminya. Keduanya basah kuyub mulai dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
Kepada wartawan, Zumi Zola mengatakan dirinya tidak merasa risih maupun marah saat warga tak henti-hentinya menyirami mereka berdua. Justru, kata dia, tindakan itu merupakan bentuk kecintaan terhadap pemimpinnya. "Itu karena masyarakat senang kami hadir di sini," ujarnya.
Sherrin pun mengaku senang mengikuti acara yang telah berlangsung puluhan tahun di daerah itu. Perempuan berkulit putih itu menyebut, mandi shafar kemarin pagi merupakan pengalaman pertama mandi shafar. "Ini yang pertama. Pengalaman baru bagi saya," ucap Sherrin.
Dia mengaku pengalaman itu sangat berkesan. "Seru, sangat seru. Semua orang yang disini larut dalam kegembiraan," ucapnya diiringi tawa. Ditambahkannya, dirinya sama sekali tidak menyangka even tersebut akan seseru yang dialaminya. "Diluar dugaan saya. Seru," katanya.
Mandi Shafar merupakan tradisi yang sudah ada di Kecamatan Sadu sejak tahun 1965. Ritual itu awalnya dilaksanakan penduduk setempat secara sendiri-sendiri. Namun pada tahun 1985, mandi shafar dilaksanaan secara bersamaan oleh semua warganya di pantai.
HM As'ad Asyad, tokoh masyarakat setempat mengatakan, pada awalnya mandi shafar tersebut dianggap sebagai perbuatan menjalankan ajaran agama Islam. Tapi seiring waktu, ungkapnya, paradigma itu telah berubah.
"Sekarang paradigmanya adalah mandi shafar sebagai budaya yang harus dilestarikan. Kalau ini dianggap untuk menjalankan ajaran agama, jelas salah. Tradisi mandi shafar dilestarikan sebab ini kekayaan daerah ini," terangnya.
Dia menjelaskan, saat ini mandi shafar bukan lagi hanya milik suku tertentu, dan bukan hanya yang beragama Islam di daerah itu yang menjalankannya. Mandi Shafar yang diadakan setiap rabu terakhir pada bulan shafar itu justru telah menjadi milik semua etnis dan agama di sana.
"Mandi shafar ini sudah menjadi budaya perekat antara umat, tidak hanya untuk umat muslim saja," katanya. Mereka yang mengikuti tradisi kemarin, sambungnya, bukan saja warga yang tinggal di daerah itu, tapi juga banyak dari luar provinsi, bahkan ada yang dari Malyasia.
Acara mandi shafar yang dimulai sekitar pukul 09.00 itu diikuti seribuan orang. Mereka larut dalam kesenangan di pantai yang bisa ditempuh dengan jarak tempuh dua jam menggunakan speedboat dari Muara Sabak itu.
Beberapa kali terlihat adegan menarik orang yang tidak mandi ke dalam laut. Tidak ada yang marah ketika dipaksa masuk ke dalam laut. "Memang tidak boleh marah, karena kalau datang ke sini, berarti sudah siap mandi shafar," ucap As'ad. (ang)

Rekomendasi

Rekomendasi

TERKINI

Lihat Semua