kerinci sungai penuh news
menu
pilihan

Kisah Pendekar Kerinci Tiang Bungkuk Mendugo Rajo

Kisah Pendekar Kerinci Tiang Bungkuk Mendugo Rajo

| Senin, 01 Januari 2018 | Dibaca: ... kali
PENDEKAR TIANG BUNGKUK DARI KERINCI
Tiang Bungkuk Mendugo Rajo
Kerincisungaipenuh.com - Pada zaman dahulu, di kerinci ada seorang adipati, adipati adalah gelar seorang pemimpin tertinggi dalam daerah kerinci, pusat pemerintahannya berada di Tamiai dan pada zaman itu kerinci telah menjalin hubungan erat dengan kerajaan mataram di jawa.

Adipati kerinci yang pertama (Tiang Bungkuk Mendugo Rajo) minta kepada pusat kerajaan mataram supaya mengirim “kain kebesaran” Adipati. Dikirimlah kain kebesaran Adipati untuk Kerinci sebanyak 4 (empat) helai. Di tengah perjalanan kain tersebut dicopot oleh Raja Jambi, dengan maksud Jambi sendiri yang mengantar kain tersebut.

Terbetik berita dapat kabar oleh Tiang Bungkuk Mendugo Rajo, bahwa kain kebesaran sudah dicopot maka amarah beliau memuncak, sehingga “kalau berletuk (berjantung) pisang menghadap daerah Jambi ditebasnya, kalau berkokok ayam menghadap daerah Jambi dipancungnya hidup-hidup”. Dan terakhir beliau mengumumkan, ultimatum perang dengan Jambi.

Oleh Raja Jambi untuk pertama kali mengirim beberapa orang dubalang-dubalang pilihan guna menangkap Tiang Bungkuk Mendugo Rajo hidup atau mati, sekurang-kurangnya kepalanya dibawa ke Jambi. Namun, apa yang terjadi? Semua dubalang-dubalang pilihan saat mengadakan tangkap-menangkap dan perkelahian sengit, semuanya disapu bersih oleh Tiang Bungkuk dengan keris saktinya. Kemudian serangan yang kedua, Raja Jambi memilih lagi dubalang-dubalang yang ternama, antara lain dipilih Jenang yang 40 dari Jambi sembilan lurah. Dalam serangan kedua ini juga Jenang yang 40 hilang raib padam berito, semuanya terkubur di Tamiai.

Mendengar ini Raja Jambi kewalahan. Untuk kali yang ketiga, Raja mengumpulkan staf pemerintahannya dan dubalang-dubalang dengan mengadakan musyawarah. Raja mengemukakan, siapa diantara mereka yang sanggup menangkap Tiang Bungkuk. Seorang ahli diplomat kerajaan, cerdik cendekiawan jaris bijaksana, Pangeran Temanggung menunjuk tangan.

Dia sanggup menangkap Tiang Bungkuk dengan syarat, yaitu, beri saya baju kebesaran kerajaan, yang terbuat dari sutera dan bersulamkan benang emas, sehingga menyilaukan mata saat memandangnya dan beri saya dubalang-dubalang yang terpilih lagi kuat, sebab Pangeran Temenggung sudah memikirkan masak-masak. Tiang Bungkuk dengan kerisnya tak mudah dikalahkan begitu saja. Semua permintaan Pangeran Temenggung dikabulkan oleh Raja Jambi.

Setelah segala sesuatunya siap, sesampainya Pangeran Temenggung dan kawan-kawanya di suatu tempat, yakni “serpih” yang sekarang ini, terletak antara Jambi dengan Kerinci, Pangeran Temenggung pergi “tarak” (mengadakan pertapaan di puncak sebuah bukit) dengan hasratnya, “kalau berhasil rencana saya “nyerpihlah” bukit ini.

Lamalah sudah pertapaan dilakukan, akhirnya bukit itu “nyerpih/terbelah”. Sampai sekarang bukit ini bernama “serpih”. Pangeran Temenggung sudah mengambil kepastian, bahwa rencananya akan berhasil. Maka Pangeran Temenggung dan kawan-kawannya dubalang-dubalang pilihan berangkat ke tempat Tiang Bungkuk di Tamiai.

Sesampai di Tamiai Pangeran Temenggung mengutus beberapa orang untuk menghadap Tiang Bungkuk, dan Tiang Bungkuk berkata: “berapa orang lagi dubalang yang mau tewas?”. Utusan menjawab: “kedatangan kali ini tidak hendak mengadakan cekak-kelahi (perang), kedatangan kali ini adalah hendak berunding”. Tiang Bungkuk mempersilahkan para tamu datang dan meladeni para tamu itu dan mengadakan perundingan.

Isi perundingan :
Kami datang. Pergi yang dilepas. Jika balik yang di nanti. Dilepas (di utus oleh Raja) pergi dengan pelepasnya, balik dengan penantinya. Jika pergi tampak punggung, jika datang tampak muka, seraya menunjukkan baju kebesaran dengan di iringi perkataan lemah lembut. “baju ini adalah baju kerajaan, yang kami sembahkan untuk Tuan kami akui menjadi Raja daerah ini Paduko Tiang Bungkuk Mendugo Rajo”.

Mendengar pengakuan tersebut Tiang Bungkuk berbesar hati, dengan tak sadar baju di ambil dan langsung di kenakan. Ketika Tiang bungkuk mengarungkan lengan baju dan tertutup matanya oleh baju, Pangeran Temengung memberi isyarat kepada dubalang-dubalang pilihan : “perintah tangkap!”.
Tiang bungkuk malang bagi dirinya. Dia diringkus dan mencoba dengan kekuatan bathinya hendak membela diri, tapi apa daya tikus seekor, pemenggal seratus, semuanya jadi sia-sia apalagi keris saktinya sedang tidak di tangannya. Tiang Bungkuk dikeroyok oleh Pangeran Temenggung dan kawan-kawannya namun semuanya tidak ada yang mempan. Akhirnya dalam keadaan terikat, di usung bersama-sama ke Jambi. Di dalam perjalanan Tiang Bungkuk mengalami siksaan yang amat sangat.

Sampai di Muara Masumai, Tiang Bungkuk diikat dan dibenam di bawah rakit. Sesampainya di Jambi, Tiang Bungkuk tetap dalam keadaan sehat, sekali pun telah beberapa hari tidak diberi makan dan minum. Di Jambi, Tiang Bungkuk mengalami siksaan demi siksaan. Akhirnya karena penderitaan Tiang Bungkuk sudah memuncak, maka beliau mengajukan satu permohonan terhadap Raja Jambi, yakni “sebelum saya menghembuskan nafas terakhir, saya ingin sekali mencicipi makanan dari Kerinci”. Oleh Raja Jambi permohonan beliau ini dikabulkan dan mengutus beberapa orang dubalang untuk berangkat ke Kerinci (Tamiai).

Segala pesan beliau tersebut disampaikan kepada istri Tiang Bungkuk, yakni Nai Meh Bulan. Oleh seorang istri yang arif-biaksana, “kilat cerminlah ke muka, kilat beliung lah ke kaki”. Maka dimasaklah lemang, di dalam lemang di masukkan keris sakti , dan di buat lepat, di dalam lepat di isinya “pisau rencong” sakti untuk membunuh orang kebal (keramat). Setelah semuanya selesai dibungkuslah lemang dan lepat baik-baik agar rahasianya jangan sampai bocor.

Sesampainya di Jambi dipersembahkan kiriman dari istri Tiang Bungkuk kepada Raja Jambi. Maka Raja ingin mengetahui isinya, apa nian kiriman tersebut, lemang dibelah dan toh ternyata dalam lemang berisi keris dan lepat dibuka, ternyata dalam lepat berisi pisau rencong.
Tiang Bungkuk dibawa menghadap Raja Jambi. Raja Jambi mengemukakan pendapatnya, yaitu keris dan pisau rencong kepada Tiang Bungkuk, Tiang Bungkuk sendirilah yang menyatakan : “itulah satu-satunya senjata yang mempan membunuh saya, andaikan senjata itu kalau dapat saya rebut darimu, Jambi Sembilan Lurah akan saya selesaikan, dan sekarang saya relakan nyawa saya”. Dengan keris pusakanya sendiri Tiang Bungkuk diselesaikan ajalnya.

Sebelum nyawa bercerai dengan badannya Tiang Bungkuk menyampaikan pesan terakhir, “ bilamana kelak anak-cucu atau keturunan saya mandi di atas kuburan saya, kuatnya lebih dari saya, saktinya berlebih dari sakti saya ”. Mendengar ini, menjadi pesan dendam dan sumpah bagi Raja Jambi sampai kepada turunan Raja Jambi. Tidak akan menunjukkan “Kuburan TIANG BUNGKUK MENDUGO RAJO” sampai sekarang ini.

Setelah Tiang Bungkuk Wafat

Setelah Tiang Bungkuk menjalani hukuman penjara beberapa bulan dan sampai awal tahun 1526 Masehi, ia merasakan sudah tidak mungkin lagi mengadakan perlawanan terhadap Rajo Melayu Jambi kalau hanya seorang diri, apa lagi rakyat Kerinci telah tunduk menyerah kepada Kerajaan Melayu Jambi, lebih-lebih kawatir akan keselamatan anak dan isterinya beserta para keluarga yang tinggal di Kerinci.
Maka setelah tiu ia melakukan solat istikhoroh dan bertaubat serta berdoa kepada Allah ia mengambil keputusan: “Daripada menyerah kalah kepada Rajo Melayu Jambi yang hanya pandai memungut uang jajah kepada rakyat, lebih baik mati berputih tulang diujung keris pusako sendiri, dari pada hidup berputih mato menanggung malu”.
Begitulah kesimpulan yang diputuskan oleh Tiang Bungkuk, sebelum keputusan diambil, pada suatu kesempatan yang baik ia berpesan kepada isteri dan saudara perempuannya yang berada di Tamiyai Kerinci, agar pusako Keris Tubanso dikirim kepadanya di Tanah Pilih Jambi, konon kabarnya yang dimaksud dengan Tubanso itu adalah sebuah keris kecil yang jadi pusako disimpan oleh ibunya di Tiang Tuo di rumah orang tuanya di Tamia, karena keris itu lahir dari rahim ibunya bersama dengan Tiang Bungkuk.

Sewaktu Tiang Bungkuk lahir tidak diiringi dengan ke tuban, kelahiran keris itu dirahasiakan dan tida ada orang yang mengetahuinya kecuali kakak perempuannya dengan ibu kandungnya, dan menurut firasat ibunya tubuh Tiang Bungkuk tidak bisa dimakan oleh senjata yang lain, selain dari keris tersebut.
Oleh karenanya keris kecil itu bungkuk dan disimpan ibunya di Tiang Tuo maka anaknya ia namai Tiang Bungkuk, dan setelah kakak perempuannya menerima pesan dari Tiang Bungkuk, maka mengertilah kakaknya itu akan apa arti dari pesan itu. Namun sebelumnya Tiang Bungkuk pernah menyampaikan pesan kepado Rajo Jambi bahwa “kalau seandainya aku mati nanti, dan siapa saja anak cucu yang menziarahi kuburan aku, maka dia akan lebih kuat dan lebih hebat dari aku, dan dia akan menjadi rajo Jambi”.

Pada suatu hari kakak perempuan Tiang Bungkuk membuat lemang beras pulut yang ia campuri jagung, lalu batang lemang itu diisinya dengan Keris Tubanso tanpa seorang pun yang mengetahuinya, dan selanjutnya lemang itu dengan antar oleh kakak perempuan bersama dubalang dan inang pengasuhnya.
Sesampainya di Jambi, kakak perempuannya meminta izin untuk mengantarkan lemang dan makan untuk Tiang Bungkuk, dan setelah keris itu sampai ke tangan Tiang Bungkuk, maka tepatnya sepenggal matahari naik ia menikam dadanya dengan keris tubanso itu, lalu keris tertusuk di hatinya menembus sampai ke jantung maka darah bercucuran keluar dari tubuhnya lau ia menghapuskan nafas penghabisannya.

Ketika para penjaga mau mengantar makan pagi kepada Tiang Bungkuk yang berada dalam penjara, penjaga terkejut menyaksikan ia telah meninggal, lalu diberitahukan kepada Kerajaan bahwa Tiang Bungkuk telah meninggal karena tusukan keris pusakonya sendiri. Pihak kerajaan memerintahkan mayat Tiang Bungkuk dikuburkan, maka bersiap-siaplah para Dubalang raja Jambi dan petugas penjara untuk memandikan jenazah beliau.

Tetapi Allah Maha Kuasa dari segala yang kuasa, ketika para dubalang dan penjaga penjara untuk mendekati tubuh beliau dengan takdir Allah Swt datang guntur-petir yang luar biasa keras bunyinya menghantam atap penjara kerajaan, dan tiba-tiba gelap oleh asap hitam hari siang bagai gelap malam sehingga tidak sedikitpun yang tampak kelihatan oleh mata.

Setelah asap hilang dari ruangan di mana jenazah Tiang Bungkuk berada, dan suasana telah menjadi terang kembali, maka semua yang berada diruangan itu terkejut dan menjadi heran, karena jenazah beliau sudah hilang dan tidak ada lagi ditempat pembaringan beliau, raib entah kemana, tidak ada bekas dan khunutnya lagi, walau dicari kemana saja, sehigga timbul tahayul waktu itu bahwa jenazah Tiang Bungkuk telah jadi petir dan asap hitam.
Setelah itu dalam beberapa hari suasana menjadi menjadi tidak menentu, apalagi ada pesan Tiang Bungkuk kepada sipir penjara dan dubalang raja.

Sehingga timbul bermacam kegundahan dari raja Jambi tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi akibat tindakan yang tidak sepantasnya dari dubalang raja mulai dari penangkapan beliau di Kerinci. Tidak sepantasnya tawanan perang diberlakukan dengan tidak terhormat, dihina, dicaci, diperlakukan dengan tidak senonoh, ditusuk dengan berbagai macam senjata ke badan beliau.

Malah yang lebih sadis diluar pikiran manusia sehat sepanjang perjalanan dibenamkan dalam air, diikat di bawah Jung (kapal) Pangeran Temenggung. Pihak kerajaan baru menyadari bahwa yang diperjuangkan oleh Tiang Bungkuk itu adalah mempertahan negeri mereka dari maksud Raja Jambi untuk mencaplok Kerinci sebagai bagian dari Kerajaan Jambi.

Sedangkan mereka adalah wilayah yang berdaulat dan tunduk pada kerajaan Melayu Pagarruyung. Mereka merasa bahwa Kerajaan Melayu Jambi belum pernah menginjak kaki di Kerinci sebelumnya sehingga wajar mereka tidak rela mereka diminta membayar uang jajah. Pokoknya bermacam-macam pemikiran dan tafsiran situasi dan kondisi yang terjadi saat itu, terjadi keresahan dan ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi.
Kemudian sempat pula didiskusikan apa yang harus dilakukan kalau sebagai persiapan kalau ada pertanyaan kenapa Tiang Bungkuk meninggal? Apakah jawaban dari pihak Kerajaan Jambi kalau seandainya terdapat pertanyaan dari Kerajaan Pagarruyung? dan banyak isu lain lagi yang berkembang di masyarakat semasa itu.

Terlepas dari itu semua, yang jelas pihak Kerajaan Jambi tetap menguburkan beliau, di Solok Sipin sekarang ada sebagian yang masih menduga adalah kuburan Tiang Bungkuk, kemudian di Rantau Mojo – Kabupaten Muara Jambi terdapat juga kuburan keramat yang juga diduga kuburan Tiang Bungkuk, namun secara umum kuburan itu dirahasiakan oleh pihak Kerajaan.
Sebagai pertanggung jawaban pada keluarga Tiang Bungkuk di Kerinci dikirimkan pakaian dan jubah beliau dan beberapa barang perlengkapan beliau yang dikirim kembali ke sanak keluarga di Tamiai. Sampai sekarang barang-barang peninggalan Tiang Bungkuk masih disimpan sebagai benda pusako rakyat Tamiai.

Sesudah meninggalnya Tiang Bungkuk, maka kakak perempuannya kembali pulang ke Kerinci melalui jalan arah ke barat daya, tepatnya melalui yang melalui Kota Sarolangun sekarang. Di sepanjang sungai tersebut banyak dubalang kerinci yang kawin dengan penduduk setempat dan berkembang sampai sekarang.
Terakhir kakak beliau pulang tidak sampai ke Kerinci, namun kawin dengan penduduk Muaro Rupit, dan sampai sekarang sebagian besar penduduk desa Tarusan Muaro Rupit adalah keturunan Tiang Bungkuk.


Gelar-gelar adat dari Kerinci sampai sekarang masih terbawa dan sering dijadikan ‘forklor’ atau legenda dari buyut mereka Tiang Bungkuk. Demikian pula anak-anak beliau yang ada di Tamiai berkembang biak, namun kondisi sekarang hanya diingatkan sewaktu ada perayaan kenduri adat atau sko seja. Banyak juga orang-orang Kerinci sekarang yang mencoba mencari kuburan Tiang Bungkuk untuk tujuan-tujuan tertentu atau yang mencoba untuk mengadu nasib mudah-mudahan mendapat karamat beliau. Wallahualam......

Sumber: kerinciinspirasi.blogspot.com/2015/04/tiang-bungkuk-dari-kerinci.html

Rekomendasi

Rekomendasi

TERKINI

Lihat Semua